Cita-Cita dan Quarter-Life Crisis

285269_2105414326482_2030216_n

Apa yang 17-tahun-Lidya bayangkan tentang 25-tahun-Lidya

Lumayan sedih juga mengingat bahwa sebentar lagi gue akan mencapai usia yang banyak orang sebut sebagai seperempat abad. Kerasa tua banget ya? Banyak orang yang ngomongin soal quarter life crisis, dan gue pribadi merasa sudah mengalaminya begitu lulus kuliah. Jadi berhubung pas banget udah 25 tahun bulet, jadi gue mau ngomongin soal hal ini.

Dari kecil gue melihat usia 25 tahun sebagai usia puncak kedewasaan seseorang. Kayaknya usia 25 tahun tuh udah mapan dan bahagia banget. Waktu gue kelas 2 SMA, kelas gue sering ada jam pelajaran kosong karena tidak ada guru. Di saat-saat seperti itu, biasanya hampir sekelas akan ngumpul untuk ngomongin banyak hal, dari yang serius sampai yang receh. Karena mayoritas isi kelas IPS di SMA Negeri 8 Jakarta di angkatan gue (Social 2012) adalah perempuan, jadi seringkali kami ngomongin soal girly-things. Sekali waktu itu kami ngomongin soal pernikahan, termasuk: “mau nikah umur berapa?” Tebak umur berapa Lidya Corry ingin menikah? Yup. 25 tahun. Gue pengen nikah di usia 25 tahun atau paling telat umur 26 tahun lah. Kenapa? Seperti yang gue bilang di awal, gue melihat usia 25 tahun adalah usia yang matang dan mapan, tapi masih muda. Gue membayangkan kalau menikah di usia 25 tahun, maka gap usia dengan anak-anak gue tidak akan jauh-jauh amat (?) dan gue akan jadi emak-emak yang trendy (?) Pokoknya gue mikir kayaknya udah pas banget lah nikah umur 25 tahun: bukan nikah muda, tapi tidak terlambat juga.

Selain nikah, gue juga sejujurnya membayangkan diri gue akan lulus S2 di kisaran umur ini. Sebagai seseorang yang terobsesi dengan life-plan, dari SMP gue selalu pengen segera lanjut S2 setelah lulus S1. Jadi kalau lulus S1 di usia 22 tahun, gue bisa lulus S2 di usia 24/25 tahun. Terus pengennya S2 di luar negeri dengan beasiswa full. Kalau “cuma” S2 di dalam negeri, maka mendingan tidak usah S2 sekalian. Abis lulus S2, baru deh menikah. Terus gue akan bekerja di NGO sambil mengajar jadi dosen S1 di UI. Perfect banget pokoknya.

BUT here am I, 25 years old, (happily) single (dan belum pernah pacaran), and never get a chance to continue my study. Terlebih lagi gue saat ini bekerja sebagai (calon) PNS, sebuah pekerjaan yang TIDAK PERNAH gue masukan dalam life-plan gue, terutama di usia yang masih tergolong muda ini. Kondisi gue saat ini jelas bukan apa yang 17-tahun-Lidya bayangkan wkwkwkwk

 

Tentang Quarter-Life Crisis

In popular psychology, a quarter-life crisis is a crisis “involving anxiety over the direction and quality of one’s life” which is most commonly experienced in a period ranging from a person’s twenties up to their mid-thirties (although it can begin as early as 18). It is defined by clinical psychologist Alex Fowke as “a period of insecurity, doubt and disappointment surrounding your career, relationships and financial situation”.

(Wikipedia, Quarter-life crisis, https://en.wikipedia.org/wiki/Quarter-life_crisis )

Seperti yang gue sampaikan di awal, gue mulai mengalami quarter-life crisis di umur 22 tahun, tepat setelah gue lulus kuliah. Waktu itu gue bekerja sebagai legal di sebuah perusahaan retail karena ikatan dinas beasiswa yang gue peroleh. Jujur, gue tidak suka bekerja di perusahaan karena pekerjaannya monoton banget. Belum lagi kalau melihat pekerjaan teman-teman semasa kuliah. Banyak orang bilang kalau quarter-life crisis dimulai ketika kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, atau pencapaian kita dengan pencapaian orang lain. Not gonna lie, gue juga sering membandingkan hidup gue dengan orang lain, terutama kalau ada temen gue atau orang yang gue kenal bisa mempunyai gelar “LLM” sebelum usia 25 tahun atau menikah di usia ini. Kadang merasa iri dan berpikir apa yang mereka punya dan gue tidak punya, sehingga mereka bisa “achieve” hal itu dan gue belum (atau tidak).

Seperti yang dikatakan oleh Alex Fowke di atas, gue banyak mengalami insecurity, doubts, and disappointment  di masa-masa awal bekerja, terutama tentang apa yang akan gue lakukan setelah ikatan dinas gue di perusahaan itu berakhir (tentang career) dan tentang relationships (cailah) gue. Kalau soal financial situation, somehow gue memang tidak terlalu khawatir. Seperti yang pernah gue ceritakan di post Jurnal Pengangguran Lidya Day 5: Seberapa Besarkah Cukup Itu?, gue terbiasa hidup ‘pas’ sedari kecil, dan gue tidak keberatan untuk tetap menjalani hidup yang ‘pas’ dan sederhana bahkan sampai gue tua nanti. Intinya, gue tidak kepengen-kepengen banget jadi orang kaya (?) Tuntutan gaya hidup tentu ada, tapi gue tidak keberatan untuk menahan diri. Justru gue malah mengalami penyertaan Tuhan terkait dengan kehidupan finansial gue, jadi gue tidak pernah merasa insecure tentangnya. Kalau tentang relationships sudah pernah gue ceritakan dalam beberapa post-post sebelumnya, jadi gue tidak akan ceritakan lebih lanjut.

Tapi tentang karir… seringkali gue harus mengelus dada dan mengingatkan diri sendiri untuk bersyukur. I’m blessed, I know it, but I want something more. Gue selalu merasa gue layak mendapatkan karir yang lebih dari ini. Gue haus akan pengakuan dan pengembangan diri. Gue tahu gue bisa “lebih dari ini”, dan seringkali gue frustrated karena gue menemukan diri gue (seperti) tidak mencapai apapun. Padahal ya sebenarnya mah sebenarnya bisa-bisa aja, cuma gue aja yang malas mencari kesempatan lain.

Secured in His Hands

Tapi setelah selesai bekerja di perusahaan, kemudian kerja sebagai corporate lawyer selama 4 bulan, dan kemudian diterima sebagai CPNS di Komnas HAM; begitu banyak pelajaran hidup yang Tuhan berikan kepada gue (gue juga sudah banyak ceritakan soal ini di post-post sebelumnya). Gue makin yakin kalau Tuhan memelihara dan menyediakan, Dia menunjukan jalan yang harus dan akan gue tempuh. Tidak semua kehendak-Nya sesuai dengan keinginan gue, tapi Tuhan membuktikan kalau itu memang adalah yang terbaik. Sedikit demi sedikit, perasaan insecure gue terkikis.

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. (Mazmur 32:8)

Jadi sebenarnya obat terbaik dari quarter-life crisis adalah keyakinan akan janji Allah, bahwa Ia memelihara dan menuntun kita senantiasa. Hal ini termasuk keyakinan bahwa walaupun kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, Allah tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. We may not achieve everything we ever wanted, but we can learn to be grateful over anything we ever achieved. Dan itu cukup.

Gue bersyukur bisa mengalami begitu banyak ketidakpastian di masa lalu, yang justru menolong gue untuk meletakan kepastian gue pada tangan yang benar. Gue bersyukur hari ini gue bisa bangun sendiri di pagi hari, berangkat ke kantor dan mengerjakan sesuatu yang gue inginkan sejak kuliah, nyobain travel size skin care high end, baca buku sambil dengerin k-hiphop di transjakarta kayak orang bener, makan enak, dan bayar listrik sendiri. Growing up is not easy, but I’m slowly finding myself comfortable doing it.

17-years-old me must be proud of 25-years-old me.                                    

WGZS5752

Soli Deo Gloria.

100719

 

Referensi:

Patresia Kirnandita, “Quarter Life Crisis: Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang”, https://tirto.id/dkvU

Advertisements

3 Replies to “Cita-Cita dan Quarter-Life Crisis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s