Untuk Sahabat

Aku tidak sedang bermain api

Tapi kalau pun ragaku tersulut cahayanya, itu tidak apa

Menjadi abu tak’an menghabiskan tulangku

Dan terbawa angin tak’an menusuk laraku

Luka tidak menghancurkan asa, kau tahu? 

Kejatuhan juga bukan musuh yang sempurna; atau mimpi yang tertahan

Ini hanya tentang mempercayai hati

Bahwa semesta punya mekanisme untuk mempertahankan diri

“Kebahagiaan akan datang bagi mereka yg setia menunggu”

Sungguh, aku baik-baik saja

200719

Advertisements

Fanfiction: An Alternation to Reply 1988 Ep. 18

Fanfiction ini gue tulis sekitar 2 tahun yang lalu ketika gue membuat blog writing challenge dan gue post di halaman tumblr gue. Ketika tumblr diblokir di Indonesia, aku merasa sedih karena beberapa tulisan gue jadi tidak bisa diakses. But recently, I figured out kalau tumblr sudah bisa diakses lagi (yeay!) Jadi gue memutuskan untuk memindahkan cerpen-cerpen yang pernah gue tulis di halaman sebelah sekedar untuk back up. Enjoy!

answer03-00971

Day 2 : Write a Fanfiction

Screw me karena menjadi orang paling tidak konsisten dan gampang banget menyerah. Akhirnya sepanjang weekend gue gabisa post sesuai dengan janji gue. Gue tahu walaupun hape gue error dan gak ada internet di rumah dan gue seharian di luar rumah, sebenernya itu bukan alasan (padahal ini lagi bikin alasan wqwq). Pada akhirnya, gue harus menggantungkan hidup pada wifi kantor.

BAIKLAH. Masuk ke dalam topik hari ini : write a fanfiction.

Menurut wikipedia, Fan fiction or fanfiction adalah “fiction about characters or settings from an original work of fiction, created by fans of that work rather than by its creator. It is a popular form of fan labor, particularly since the advent of the Internet.” Jadi fanfiction adalah semacam cerita tambahan sebuah karangan fiksi (dengan tokoh dan karakter yang sama) yang dibuat oleh fan karya tersebut.

Awalnya gue pikir fanfiction adalah cerita yang dibikin fan tentang karakter idolanya. Soalnya gue pernah baca fanfic Korea (yang kebanyakan isinya gak banget) dan isinya biasanya cerita tentang idol mereka apalah, kisah cinta fan sama idol-nya lah, dan lain-lain. Makanya walaupun gue suka Korea, gue gak suka baca fanfic Korea.

Jadi hari ini saya akan menulis fanfic sesuai kaedah fanfic versi wikipedia dan wikihow (yes I google how to write fanfic wqwq). Tapi sebelumnya gue minta maaf karena sebenernya gue tidak experienced dalam menulis karangan fiksi. Hehe.

Fanfic yang akan gue tulis diadopsi dari drama Korea “Reply 1988”. Drama ini berlatar waktu di tahun 1988 dan bercerita tentang lima sahabat yang tinggal bertetangga di daerah yang namanya Sangmundong. Ada Duk-Sun, Jung-Hwan, Sun-Woo, Taek, dan Dong-Ryong. Jadi seperti Reply Series lainnya, di drama ini kita akan diajak menebak siapakah diantara pemain-pemain pria yang akan menjadi suami dari pemain utama wanita. Di Reply 1988, kita menebak siapakah diantara Jung-Hwan, Sun-Woo, Taek, dan Dong-Ryong yang akan jadi suami Duk-Sun. Seiring berjalannya cerita, tersisa dua orang kandidiat kuat : Jung-Hwan dan Taek. Orang-orang mulai taking side, jadi #TeamJunghwan atau #TeamTaek. Kalau membaca pola Reply series, kemungkinan kuat Jung-Hwan yang akan jadi suami Duk-Sun. NAMUN TERNYATA PREDIKSI TERSEBUT SALAH SAUDARA-SAUDARA. Di episode 19, kondisi berbalik dan somehow Taek-lah yang akhirnya jadi suami Duk-Sun.

Sebagai seorang #TeamJungHwan, gue tidak bisa menerima kenyataan ini. Karena itulah, fanfic ini bertujuan untuk menuliskan ending seperti apa yang saya inginkan. Uhyeah.

Sejujurnya, ketika gue riset lagi, hati gue tercabik-cabik karena kembali mengingat apa yang terjadi dalam drama tersebut. Huff.

Gue akan mulai fanfic-nya sebagai lanjutan episode 18. Jadi ceritanya Duk-sun mau blind date nonton konser dengan seorang cowok. Dia udah dateng ke konser dan udah belu dua tiket. Eh ternyata si cowok itu gak jadi dateng dan malah jalan sama cewek lain. Somehow, Taek dan Jung-hwan tau tentang itu, dan dua-duanya datang ke bioskop itu untuk menemui Duk-Sun. Di cerita aslinya, Taek-lah yang berhasil menemui Duk-Sun duluan. But, here is my story.

p.s kalau kalian mau baca cerita episode 18-nya, silahkan buka link ini :

http://www.dramabeans.com/2016/01/answer-me-1988-episode-18/

————————————————————————————————

Jung-hwan tidak fokus menonton “Forrest Gump”. Dong-ryeong terus saja berbicara, tapi Jung-hwan sama sekali tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya. “Duk-sun bodoh. Kenapa dia bersikeras untuk datang ke concert hall itu? Dia bisa mati kedinginan,” Jung-hwan berulang-ulang mengucapkan kalimat itu di dalam otaknya.

Jung-hwan tidak bisa berdiam diri lagi. Ia berdiri dan berlari ke pintu keluar. “Ya! Jung-hwan! Kamu mau kemana???!!!” seru Dong-ryeong melihat Jung-Hwan yang meninggalkannya. Jung-hwan berlari ke tempat parkir, menyalakan mesin, dan langsung memacu mobilnya menuju concert hall. Tanpa mempedulikan kondisi sekitar dan bahkan lampu lalu lintas, Jung-hwan menerobos semua halangan. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana caranya bisa sampai di concert hall secepat mungkin.

(di depan concert hall)

Duk-sun benar-benar merasa bodoh. Dia sudah menelepon semua orang yang dikenalnya (bahkan Sung Bora, orang terakhir di semesta ini yang dia ingin menonton konser bersama), tapi tidak ada satu pun yang bisa datang. Ja-hyun baru bisa sampai 40 menit lagi. Tapi mungkin ketika Ja-hyun datang, ia mungkin sudah menjadi orang-orangan salju. Dengan tubuh yang sangat kedinginan, Duk-sun hanya bisa menggerutu dalam hati, “Mengapa aku bisa sebodoh ini? Mengapa aku harus mengaku-ngaku menonton konser? Mengapa aku tidak membawa jaketku? Aku bahkan meninggalkan dompetku.”

“Duk-sun!”

Duk-sun menoleh kebelakang. Tiba-tiba ia merasa sangat hangat karena pelukan seseorang.

“Bodoh! Kau adalah wanita paling bodoh di dunia. Kebodohanmu tidak tertandingi. Sung-Bora pasti malu mempunyai adik seperti kau. Kau bahkan lebih bodoh daripada hyung-ku,” Jung-hwan berbicara dengan satu tarikan napas sambil memeluk Duk-sun.

Duk-sun tidak dapat bernapas. Jung-hwan memeluknya dengan sangat erat. Dan berbeda. Ini bukan pelukan sahabat yang biasanya. Ada…. Aliran listrik yang seolah mengalir dari tubuh Jung-hwan. Entahlah.

Setelah tiga menit berlalu tanpa suara, Jung-hwan melepaskan pelukannya. Lalu Jung-hwan melepaskan jaketnya, mengenakannya ke Duk-sun, lalu membalikan badannya dan menarik tangan Duk-sun tanpa melihat mata Duk-sun. Sekilas, Duk-sun bisa melihat kilatan dan genangan air di mata Jung-hwan.

“Mau kemana kita?” tanya Duk-sun.

“Ya pulang lah! Dasar bodoh,” Jawab Jung-hwan ketus.

Sesampainya di mobil, Jung-hwan membukakan pintu untuk Duk-sun. Setelah naik, ia menyalakan mobil dan pemanas.

“Bisakah kita tidak pulang sekarang? Aku takut bertemu Dong-ryeong dan Sun-woo. Jangan bilang siapa-siapa kalau aku tidak jadi…”

“BUKAN HAL ITU YANG PENTING BODOH! KAU HAMPIR MATI KEDINGINAN KARENA KEBODOHANMU!” teriak Jung-hwan.

Duk-sun terdiam. “Jung-hwan aneh, ada apa dengannya?” pikir Duk-sun.

Mereka melewatkan lima menit dengan terdiam.

Jung-hwan kemudian memacu mobilnya. Perjalanan terasa begitu mencekam. Walaupun kondisi di mobil hangat, Duk-sun merasa kedinginan karena sikap Jung-hwan.

Sesampainya di Samundong, Jung-hwan menghentikan mobilnya dan menyuruh Duk-sun turun.

“Kau tidak turun?” tanya Duk-sun.

“Turunlah duluan. Aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu,” jawab Jung-hwan.

Duk-sun kemudian turun dan berjalan ke pagar rumahnya. Ketika ia menoleh kebelakang, ia bisa melihat Jung-hwan menundukan kepalanya dan bersandar pada kemudi mobilnya.

(malam harinya)

“Aku berani bertaruh, Jung-hwan pasti menyukaimu,” bayangan Ja-hyun mengatakannya terlintas di pikiran Duk-sun.

“Setelah selama ini? Setelah 6 tahun berlalu? Tidak mungkin,” Duk-sun menjawab dirinya sendiri di dalam hatinya. Sikap Jung-hwan selama mereka melewati bangku SMA memang sangat mencurigakan, tapi apakah mungkin Jung-hwan masih menyukai Duk-sun setelah waktu berlalu?

(beberapa malam kemudian)

Besok Jung-hwan akan kembali pergi. Malam ini, Duk-Sun, Jung-Hwan, Sun-Woo, Taek, dan Dong-Ryong berjanji bertemu. Jung-hwan sudah tiba di café pukul 6 sore, walaupun mereka berjanji bertemu pukul 7. Waktu menunjukan 19.20 ketika pintu café terbuka, dan Duk-sun masuk ke dalam café. Jung-hwan melambaikan tangannya. Perasaannya campur aduk. Sejak kejadian di concert hall, Jung-hwan tidak pernah bertemu dengan Duk-sun. Sebisa mungkin dia mencoba menghindari Duk-sun. Perasaannya untuk Duk-sun kembali menguat, dan walaupun ia berusaha mengingat alasan mengapa ia tidak pernah mengungkapkannya setelah enam tahun, semua alasan-alasan itu runtuh seketika setiap melihat Duk-sun. Seperti hari ini.

Duk-sun berjalan menuju meja Jung-hwan dan memesan minuman sambil menunggu.

“Kau sudah lama datang?” tanya Duk-sun.

“Dari jam 6,” jawab Jung-hwan singkat.

“Kau belum pesan makanan?”

“Aku belum lapar”

“Mengapa belum lapar?”

“Kau minta kupukul ya?”

Duk-sun mengkerut. Tiba-tiba dia melihat jari tangan Jung-hwan yang diletakkannya di atas meja.

“WOAH!  Ini graduation-ring mu? Cool~” Duk-sun kemudian mengambilnya secara paksa dari tangan Jung-hwan.

“Kata orang, semua pilot akan memberikan graduation-ring-nya untuk wanita yang disukainya. Mengapa kau tidak memberikannya pada seorang wanita? Kau tidak pernah suka wanita? Atau kau memang tidak suka wanita?” tanya Duk-sun dengan wajah iseng.

Jung-hwan terdiam.

“Ambilah.”

“Hah?”

“Itu untukmu.”

“Maksudmu?”

“Kau bilang aku seharusnya memberikannya untuk wanita yang ku sukai?”

“Kau gila ya, Jung-pal?”

“Ya. Aku cukup gila ketika menunggumu sejam di luar rumah hanya untuk bisa berangkat sekolah bersama denganmu, melepaskan lalu mengikat tali sepatuku lagi berkali-kali sambil menunggu kau berangkat. Aku cukup gila karena tidak bisa tidur ketika kau belum pulang dari perpustakaan setiap malam. Aku cukup gila karena merasa sangat bahagia ketika kau memberikanku kaos saat aku berulang tahun. Atau ketika kita pergi ke konser bersama. Atau bahkan ketika kita tidak sengaja bertemu di bus. Aku cukup gila karena aku menyukaimu. Sejak 6 tahun yang lalu.”

“Kau bercanda…”

“Aku juga berharap aku sedang bercanda. Sayangnya, aku tidak bercanda. Aku menyukaimu, Duk-sun. Tidak, aku mencintaimu.”

(EPISODE 18 SELESAI)

33db8697c3354c57bfd5f90a2b2a1ad740d940b3_hq

—————————————————————————————————-

AND THAT’S A WRAP. Setidaknya gue bisa mem-visualisasi-kan episode ke-18 yang gue harapkan. Bye!

090117

Cita-Cita dan Quarter-Life Crisis

285269_2105414326482_2030216_n

Apa yang 17-tahun-Lidya bayangkan tentang 25-tahun-Lidya

Lumayan sedih juga mengingat bahwa sebentar lagi gue akan mencapai usia yang banyak orang sebut sebagai seperempat abad. Kerasa tua banget ya? Banyak orang yang ngomongin soal quarter life crisis, dan gue pribadi merasa sudah mengalaminya begitu lulus kuliah. Jadi berhubung pas banget udah 25 tahun bulet, jadi gue mau ngomongin soal hal ini.

Dari kecil gue melihat usia 25 tahun sebagai usia puncak kedewasaan seseorang. Kayaknya usia 25 tahun tuh udah mapan dan bahagia banget. Waktu gue kelas 2 SMA, kelas gue sering ada jam pelajaran kosong karena tidak ada guru. Di saat-saat seperti itu, biasanya hampir sekelas akan ngumpul untuk ngomongin banyak hal, dari yang serius sampai yang receh. Karena mayoritas isi kelas IPS di SMA Negeri 8 Jakarta di angkatan gue (Social 2012) adalah perempuan, jadi seringkali kami ngomongin soal girly-things. Sekali waktu itu kami ngomongin soal pernikahan, termasuk: “mau nikah umur berapa?” Tebak umur berapa Lidya Corry ingin menikah? Yup. 25 tahun. Gue pengen nikah di usia 25 tahun atau paling telat umur 26 tahun lah. Kenapa? Seperti yang gue bilang di awal, gue melihat usia 25 tahun adalah usia yang matang dan mapan, tapi masih muda. Gue membayangkan kalau menikah di usia 25 tahun, maka gap usia dengan anak-anak gue tidak akan jauh-jauh amat (?) dan gue akan jadi emak-emak yang trendy (?) Pokoknya gue mikir kayaknya udah pas banget lah nikah umur 25 tahun: bukan nikah muda, tapi tidak terlambat juga.

Selain nikah, gue juga sejujurnya membayangkan diri gue akan lulus S2 di kisaran umur ini. Sebagai seseorang yang terobsesi dengan life-plan, dari SMP gue selalu pengen segera lanjut S2 setelah lulus S1. Jadi kalau lulus S1 di usia 22 tahun, gue bisa lulus S2 di usia 24/25 tahun. Terus pengennya S2 di luar negeri dengan beasiswa full. Kalau “cuma” S2 di dalam negeri, maka mendingan tidak usah S2 sekalian. Abis lulus S2, baru deh menikah. Terus gue akan bekerja di NGO sambil mengajar jadi dosen S1 di UI. Perfect banget pokoknya.

BUT here am I, 25 years old, (happily) single (dan belum pernah pacaran), and never get a chance to continue my study. Terlebih lagi gue saat ini bekerja sebagai (calon) PNS, sebuah pekerjaan yang TIDAK PERNAH gue masukan dalam life-plan gue, terutama di usia yang masih tergolong muda ini. Kondisi gue saat ini jelas bukan apa yang 17-tahun-Lidya bayangkan wkwkwkwk

 

Tentang Quarter-Life Crisis

In popular psychology, a quarter-life crisis is a crisis “involving anxiety over the direction and quality of one’s life” which is most commonly experienced in a period ranging from a person’s twenties up to their mid-thirties (although it can begin as early as 18). It is defined by clinical psychologist Alex Fowke as “a period of insecurity, doubt and disappointment surrounding your career, relationships and financial situation”.

(Wikipedia, Quarter-life crisis, https://en.wikipedia.org/wiki/Quarter-life_crisis )

Seperti yang gue sampaikan di awal, gue mulai mengalami quarter-life crisis di umur 22 tahun, tepat setelah gue lulus kuliah. Waktu itu gue bekerja sebagai legal di sebuah perusahaan retail karena ikatan dinas beasiswa yang gue peroleh. Jujur, gue tidak suka bekerja di perusahaan karena pekerjaannya monoton banget. Belum lagi kalau melihat pekerjaan teman-teman semasa kuliah. Banyak orang bilang kalau quarter-life crisis dimulai ketika kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, atau pencapaian kita dengan pencapaian orang lain. Not gonna lie, gue juga sering membandingkan hidup gue dengan orang lain, terutama kalau ada temen gue atau orang yang gue kenal bisa mempunyai gelar “LLM” sebelum usia 25 tahun atau menikah di usia ini. Kadang merasa iri dan berpikir apa yang mereka punya dan gue tidak punya, sehingga mereka bisa “achieve” hal itu dan gue belum (atau tidak).

Seperti yang dikatakan oleh Alex Fowke di atas, gue banyak mengalami insecurity, doubts, and disappointment  di masa-masa awal bekerja, terutama tentang apa yang akan gue lakukan setelah ikatan dinas gue di perusahaan itu berakhir (tentang career) dan tentang relationships (cailah) gue. Kalau soal financial situation, somehow gue memang tidak terlalu khawatir. Seperti yang pernah gue ceritakan di post Jurnal Pengangguran Lidya Day 5: Seberapa Besarkah Cukup Itu?, gue terbiasa hidup ‘pas’ sedari kecil, dan gue tidak keberatan untuk tetap menjalani hidup yang ‘pas’ dan sederhana bahkan sampai gue tua nanti. Intinya, gue tidak kepengen-kepengen banget jadi orang kaya (?) Tuntutan gaya hidup tentu ada, tapi gue tidak keberatan untuk menahan diri. Justru gue malah mengalami penyertaan Tuhan terkait dengan kehidupan finansial gue, jadi gue tidak pernah merasa insecure tentangnya. Kalau tentang relationships sudah pernah gue ceritakan dalam beberapa post-post sebelumnya, jadi gue tidak akan ceritakan lebih lanjut.

Tapi tentang karir… seringkali gue harus mengelus dada dan mengingatkan diri sendiri untuk bersyukur. I’m blessed, I know it, but I want something more. Gue selalu merasa gue layak mendapatkan karir yang lebih dari ini. Gue haus akan pengakuan dan pengembangan diri. Gue tahu gue bisa “lebih dari ini”, dan seringkali gue frustrated karena gue menemukan diri gue (seperti) tidak mencapai apapun. Padahal ya sebenarnya mah sebenarnya bisa-bisa aja, cuma gue aja yang malas mencari kesempatan lain.

Secured in His Hands

Tapi setelah selesai bekerja di perusahaan, kemudian kerja sebagai corporate lawyer selama 4 bulan, dan kemudian diterima sebagai CPNS di Komnas HAM; begitu banyak pelajaran hidup yang Tuhan berikan kepada gue (gue juga sudah banyak ceritakan soal ini di post-post sebelumnya). Gue makin yakin kalau Tuhan memelihara dan menyediakan, Dia menunjukan jalan yang harus dan akan gue tempuh. Tidak semua kehendak-Nya sesuai dengan keinginan gue, tapi Tuhan membuktikan kalau itu memang adalah yang terbaik. Sedikit demi sedikit, perasaan insecure gue terkikis.

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. (Mazmur 32:8)

Jadi sebenarnya obat terbaik dari quarter-life crisis adalah keyakinan akan janji Allah, bahwa Ia memelihara dan menuntun kita senantiasa. Hal ini termasuk keyakinan bahwa walaupun kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, Allah tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. We may not achieve everything we ever wanted, but we can learn to be grateful over anything we ever achieved. Dan itu cukup.

Gue bersyukur bisa mengalami begitu banyak ketidakpastian di masa lalu, yang justru menolong gue untuk meletakan kepastian gue pada tangan yang benar. Gue bersyukur hari ini gue bisa bangun sendiri di pagi hari, berangkat ke kantor dan mengerjakan sesuatu yang gue inginkan sejak kuliah, nyobain travel size skin care high end, baca buku sambil dengerin k-hiphop di transjakarta kayak orang bener, makan enak, dan bayar listrik sendiri. Growing up is not easy, but I’m slowly finding myself comfortable doing it.

17-years-old me must be proud of 25-years-old me.                                    

WGZS5752

Soli Deo Gloria.

100719

 

Referensi:

Patresia Kirnandita, “Quarter Life Crisis: Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang”, https://tirto.id/dkvU

My Confessions

desert

Tuhan, bosankah Engkau mendengar doaku?
Muakkah Engkau melihat air mataku?
Karena dalam mulutku yang seolah-olah kudus,
Aku menikmati dosa-dosaku
Ketika hatiku hancur, tapi aku tidak berjuang menyatukannya kembali
Dan ku biarkan langkahku menjauhi-Mu

Terus menerus aku berkata: “aku merindukan-Mu”
Tapi yang aku kejar adalah bayangan kebahagiaan yang palsu
Semakin banyak aku belajar, semakin bebal hatiku menjadi

Apalagi ya Tuhan yang bisa ku bawa bagi-Mu,
Iman pun bahkan aku tidak punya lagi
Aku menikmati berkat-Mu yang indah bagai surga
Tapi mencicipi “neraka”-Mu aku enggan
“Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil”
Namun lebih keras aku berteriak, “Semua milikku! Semua milikku!”
Berkali-kali Kau hancurkan kesombonganku,
Tapi ego dan hatiku masih setinggi angkasa

Berulangkali aku menjadi iblis bagi diriku
Seperti istri Ayub berkata pada dirinya sendiri:
“Kutukilah Allahmu dan matilah!”
Hatiku keras bagai batu, ya Tuhan
Air mataku tidaklah mengalir melembutkannya
Aku tidak layak, aku najis seperti kain kotor
Jangankan untuk menghadap Engkau,
Untuk membalikkan telapak tanganku pun aku tidak mampu

Bersama abu yang aku tabur di atas kepalaku,
Terimalah aku, Tuhan

Sebab aku habis tanpa-Mu

 

140817

 

Mempercayai Allah di masa menyenangkan, itu biasa. Namun mempercayai-Nya di masa kegelapan, itulah iman.” (Charles Spurgeon)

Puisi ini ditulis 3 bulan setelah kepergian papa, dan menjadi monumen titik balik dan pemulihan bagi imanku yang hancur lebur saat itu.

The Fall

Ku rasa aku tak cocok jatuh cinta
Karena seringkali aku memilih untuk mematahkan hatiku sebelum memberikan kesempatan baginya untuk berdiri
Membiarkan diriku larut dalam ketakutan dan kecemasanku sendiri

“Bagaimana kalau ternyata semua hanya ilusi? Bagaimana kalau semuanya cuma mimpi?”

Aku terus dikejar kata sia-sia dan bayangan genangan air mata
Bahkan sebelum kau berkata apa-apa, aku sudah terluka
Hatiku terlalu kecil untuk jatuh, patah, atau hancur
Aku tidak punya keberanian menghadapimu, kamu tahu?

Ini bukan aku
Aku bukan aku yang aku tahu

Sementara jantungku terus berdetak seiring dengan langkahmu
Sementara mataku terus bersuka melihat sosokmu
Sementara mulutku terus bersuara membisikkan namamu

Sungguh, aku ingin undur diri dan membakar bayangmu
Berharap besok aku terbangun dan melupakan semua tentangmu

Tapi
Tidak

Aku tidak bisa.

Dan bersama gelapnya malam, aku pun menyadari: aku sudah terlalu jatuh.

090419

What’s wrong with me?

Jurnal Pengangguran Lidya Day 7: Chatime, 7 Rings, dan Pengendalian Diri

Hari Kamis minggu lalu gue buka instagram, terus lihat story seorang teman yang nge-post chatime. Seketika gue kepengen banget minum chatime, walaupun pada saat itu gue lagi pilek lumayan parah. Kebetulan waktu itu gue memang perlu pergi ke swalayan dan apotek untuk beli obat dan beberapa bahan makanan. Jadilah gue pergi ke swalayan dan apotek, dan setelah itu sempetin mampir ke Chatime yang terletak di seberang swalayan yang gue datangi dan membeli roasted milk tea favorit w (no ice tentunya, walaupun tetep dingin sih hehe).

Ini bukan pertama kalinya gue impulsif dengan keinginan makanan gue. Untuk makanan, gue seringkali menganut lirik lagu 7 Rings-nya Ariana Grande: “I see it, I like it, I want it, I got it.” Puncaknya ketika kantor gue pindah ke dalam sebuah Mall di BSD. Pikiran gue ketika gue berangkat ke kantor setiap hari, literally setiap hari, adalah “gue akan jajan apa ya hari ini?” Gue sampai diketawain dan diceng-cengin setiap kali jajan sama tetangga-tetangga meja gue karena ada aja jajanan gue setiap hari. Dari kopi, roti, teh hijau, egg tart, sushi, chatime, KOI, crepes, salad, sampai es krim. Gue selalu membela diri dengan bilang “food is my source of happiness” yang sebenarnya ada benarnya juga, walaupun gue tahu bahwa kebahagiaannya cuma sementara. Berat badan gue naik sekitar 8kg selama 2 tahun gue bekerja di perusahaan itu.

Walau sering dicengin soal jajan mulu, sebenarnya sedikit banyak filosofi “I want it, I got it” itu banyak terpengaruh sama pendapat teman-teman di kantor dulu (atau orang-orang bekerja pada umumya) bahwa sudah seharusnya kita memberikan reward untuk diri kita sendiri untuk pekerjaan yang sudah kita lakukan. Ada orang yang me-reward dirinya dengan baju, atau jalan-jalan, atau dalam kasus gue: makanan. Karena itu, gue semakin mantap (cailah) dalam mem-spoiled diri gue dengan membelikan makanan apapun yang gue inginkan. Padahal mah bekerja itu juga sebenarnya juga udah reward nda sih, karena manusia kan memang diciptakan sebagai makhluk yang bekerja. Justru manusia yang tidak bekerja tidak memanusiakan dirinya. Jadi, diberi reward/tidak, kita tetap akan bekerja. Pilihan bekerja dengan baik/tidak terletak pada diri kita sendiri, bukan pada ada/tidaknya reward.

Gue sempat berpikir bahwa mungkin kebiasaan yang tidak elok itu juga merupakan pembalasan dendam gue untuk hasrat-hasrat yang tidak tersampaikan semasa gue kecil sampai gue SMA. Seperti yang gue ceritakan dalam Jurnal Pengangguran Lidya Day 5, gue bukan berasal dari keluarga yang berada, semuanya serba cukup dan pas. Karena itu, gue tidak punya banyak budget untuk jajan dan seringkali tidak bisa beli hal yang gue mau ketika gue pengen. Gue inget ketika gue jalan sama teman-teman gue dan kita mampir makan di KFC. Gue laper dan pengen makan nasi ayam, tapi uang gue kurang L akhirnya gue cuma beli twister. Gue juga dulu selalu menahan diri untuk tidak membeli fanta susu di depan sekolah karena sayang uangnya hahahahaha Intinya, mungkin sebenarnya gue udah big eater dari dulu, cuma punya uangnya baru sekarang-sekarang aja HAHAHAHA

Walau demikian, gue sadar betul bahwa dua alasan di atas tidak bisa menjustifikasi pola konsumsi makanan gue yang sangat tidak sehat. Apa yang disampaikan oleh Ariana Grande di lagu 7 Rings sangat bertolak belakang dengan prinsip yang sehat (dan benar, menurut gue dan Alkitab) yaitu pengendalian/penguasaan diri. Kita bisa menginginkan sesuatu dan memilih untuk tidak memilikinya, yaitu dengan menguasai dan mengendalikan diri kita. Pengendalian/penguasaan diri adalah bagian dari Buah Roh dalam Galatia 5:22-23. Menurut gue, bukan tanpa alasan pengendalian/penguasaan diri termasuk Buah Roh, karena dibutuhkan “kemampuan spiritual” untuk menguasai/menguasai diri kita. Pengendalian/penguasaan diri bukan hal yang mudah, tapi jelas tidak mustahil. Dengan berlatih dan dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa mengendalikan/menguasai diri kita. Tidak semua yang kita inginkan atau sukai harus kita miliki, karena hati manusia itu seperti blackhole. Walaupun seluruh semesta ini dimasukan ke dalamnya, kita tetap tidak akan merasa puas. Kita akan selalu haus dan lapar dengan keinginan yang lain, dan tidak akan pernah ada habisnya. Dengan terus menerus mengikuti keinginan hati kita, kita membuat diri kita tidak berdaya bahkan untuk melawan diri kita sendiri. Walaupun kita sadar bahwa kita tidak membutuhkannya atau hal itu tidak akan signifikan, tapi kita tidak bisa menolaknya. Dan begitu terus sampai tahun baru kuda. Dan ini sangat sangat tidak sehat.

Inilah yang gue rasakan dengan makanan selama bertahun-tahun. Gue bisa menghabiskan uang sampai Rp 100.000 per hari hanya untuk jajan. Bisa dibilang, gaji gue habis untuk jajan. Di akhir 2018, gue menemukan bahwa berat badan gue sudah masuk kategori obsessed. Akhirnya gue sadar, this needs to stop. Sejak Desember 2018, gue memutuskan untuk diet (memotong konsumsi kalori harian gue dengan memilih makanan rendah kalori dan tidak snack-ing). Gue memang banyak jatuh bangun, seringkali gue cheating, but somehow, I managed to cut some kilograms. Tapi yang paling penting, gue berhasil membuktikan kepada diri gue sendiri bahwa gue bisa berkata “tidak” untuk keinginan hati gue (walaupun masih suka jatuh juga, seperti kasus chatime hehe). For this, I would like to give myself an appreciation wkwkwk #riya

Gue menulis ini untuk meng-encourage teman-teman di luar sana atau diri gue sendiri di masa depan, kalau self-control atau penguasaan/pengendalian diri itu SANGAT PENTING dan TIDAK MUSTAHIL. Kita harus bisa menahan diri dan berkata “tidak” untuk diri kita sendiri untuk hal-hal yang tidak berguna. This is part of growing up, I guess.

180319

Jurnal Pengangguran  Lidya Day 6: The Privilege of “How are you doing?”

Sudah hampir 3 tahun saya meninggalkan dunia kampus dan menjalani kehidupan sebagai “grown-ups”. Memasuki chapter ini jelas tidak mudah, banyak kejadian-kejadian yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Satu hal yang tidak pernah saya sangka akan saya alami adalah merasa kesepian. Saya termasuk orang yang ekstrovert dan senang bergaul, karena itu saya berusaha menjalin pertemanan dengan banyak orang.  Kesepian tidaklah berada di dalam kamus saya, hingga akhirnya saya bekerja dan tidak lagi punya jadwal pertemuan regular dengan teman-teman dekat saya. Terkadang saya masih chat atau telponan dengan beberapa teman terdekat saya, tapi saya tahu ini tidak cukup. Saya ingat dulu ketika kuliah, hampir semua permasalahan atau isi pikiran saya diketahui oleh teman-teman terdekat saya. Tidak ada yang tersembunyi, karena kami punya banyak waktu untuk menceritakan apa yang sedang kami alami, pikirkan, dan rasakan sepanjang jam makan siang atau sore hari setelah semua jadwal matkul selesai. Terlebih lagi saya menghabiskan hampir seharian bersama orang-orang yang sama, senin-jumat, selama bertahun-tahun. Bisa dibilang saya membagi hidup saya dengan mereka. Tanpa saya ceritakan, mereka juga sudah tahu apa yang terjadi dalam hidup saya.

Tapi semuanya berbeda sekarang. Kami menjalani hidup kami masing-masing secara terpisah, dengan tantangan dan permasalahannya sendiri-sendiri. Kami bertemu dengan orang baru, dan mungkin menghabiskan waktu kami dengan orang baru tersebut. Walau demikian, dalam hati saya, saya masih ingin membagi hidup dan menghabiskan waktu bersama teman-teman terdekat saya semasa kuliah. Mereka adalah orang-orang yang bahkan bisa mengetahui diri saya sebelum saya menceritakan apapun, orang-orang yang tahu persis bagaimana menanggapi cerita-cerita saya, dan tempat dimana saya bisa menjadi diri saya sendiri.

Di tahun-tahun ini, akhirnya saya menyadari satu hal, yaitu betapa istimewa-nya pertanyaan: “apa kabar?” atau “gimana hidup?” Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar biasa, tapi bagi saya memuat pernyataan “I still care for you.” Pertanyaan semacam “how are doing?” sangat spesial baik bagi yang bertanya maupun kepada yang ditanya.

Pertanyaan ini spesial kepada yang ditanya karena berarti dia masih dikasihi dan diperhatikan oleh orang lain. Bagi yang ditanya, pertanyaan ini merupakan sebuah privilege karena membuatnya berpikir bagaimana hidup saya sejauh ini, bagaimana saya menjalani hari-hari, dan terutama bagaimana kabar saya. Pertanyaan ini menjadi bentuk invisible-warm-hug bagi yang ditanya. Karena itu, jika ada yang bertanya pertanyaan ini kepada kita, mari mengambil waktu sejenak untuk bersyukur dan mengapresiasi pertanyaan ini, serta memikirkan baik-baik bagaimana kita menjalani hidup kita.

Pertanyaan ini spesial kepada yang bertanya karena berarti dia masih punya “kemewahan” untuk mempedulikan dan memperhatikan orang lain. Bagi yang bertanya, pertanyaan ini merupakan sebuah privilege karena membuktikan bahwa arus deras dunia realitas tidak menggerusnya sampai habis. Di dunia yang self-centered ini, mereka masih punya hati untuk orang lain dan menemukan kebahagiaan dari memberi afeksi. Saya pernah membaca sebuah thread viral di Twitter tentang “tips” bagaimana seharusnya kita menjalin relasi dengan orang lain, salah satunya adalah untuk tidak menyelak orang lain yang sedang bercerita tentang dirinya. Saya juga mengalami hal ini, karena itu saya sadar bahwa memang kadang kita ingin menimpali cerita orang lain dengan cerita kita sendiri, ketika sebenarnya orang itu hanya ingin didengarkan. Intinya, kabanyakan orang lebih cenderung untuk minta diperhatikan dan didengarkan daripada untuk memperhatikan dan mendengarkan orang lain. Karena itu, jika kamu bisa bertanya “how are you doing?” dengan tulus kepada orang lain (tanpa motif untuk ditanya balik), maka sadarilah dan syukurilah itu adalah privilege untukmu.

So, how are you doing?

 

130319

Karena dia sudah bahagia

Aku akan bahagia karena dia sudah bahagia
Karena dia sudah melepaskan segala ketakutan dan bebannya
Yang selama ini selalu dia tanggung seorang diri, tanpa mau orang lain tahu atau peduli
Dia selalu berdiri tegak dan tinggi, tak peduli apa yang dunia katakan
Dia hanya ingin kami bahagia, dan percayalah, setiap detik yang kami lewati bersamanya, adalah bahagia
Tapi air matanya dinikmatinya sendiri
Dan setiap sinar matahari yang menusuk, dia tanggung sendiri
Dia tak ingin kami tahu berapa berat beban yang dibawanya,
atau seberapa erat dia menggenggam semuanya
Walau dia sadar, terkadang semuanya itu merobek tangannya dan melukai hatinya

Tapi dia hanya ingin kami bahagia, meski dia harus membayarnya
Seperti dia yang sudah melepaskan bebannya dan menjadi bahagia, demikian juga aku akan melepaskan dia dan menjadi bahagia
Aku akan bahagia, karena dia sudah bahagia

060319



Walaupun terkadang kenyataan tidak menjadi lebih mudah, tapi hari ini aku belajar menerima kalimat “dia sudah bahagia disana”. Terima kasih Tuhan, tolong aku bahagia untuk kebahagiaannya.

Jurnal Pengangguran Lidya Day 5: Seberapa Besarkah Cukup Itu?

Hari ini gue ingin membagikan apa yang gue dibahas dalam sesi KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) bersama KTB RK XVI di hari Minggu, 24 Februari 2019 kemaren. Kami membahas Bab 6 buku PA Uang dan Pekerjaan dengan judul bab “Seberapa Besarkah Cukup Itu?” Pembahasan bab ini dimulai dengan pertanyaan: “Kondisi-kondisi seperti apa yang berkata “cukup” kepada anda?” Sebuah pertanyaan yang terlihat simple, tapi susah sekali dijawab. Pada awalnya, gue mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan pemikiran jujur gue, bahwa bagi gue kondisi “cukup” adalah kondisi dimana gue bisa membeli produk skin care setelah produk itu abis. Terdengar sederhana, tapi setidaknya gue sadar bahwa gue tidak akan bisa repurchase produk-produk skin care kalau gue bahkan tidak punya uang untuk makan atau beli bensin. Jadi ya buat gue “cukup” tidaklah sampai gue bisa beli mobil atau emas, tapi asalkan gue punya uang untuk membeli kebutuhan “tersier-rasa-primer” (kebutuhan yang itungannya mewah, tapi gue merasa seperti kebutuhan mendasar wkwkwkwk), maka itu sudah “cukup”.

Tapi gue bersyukur banget setelah membahas bahan PA ini, gue belajar hal baru tentang kata “cukup”. Kami sama-sama belajar dari perikop Pengkotbah 5:7-19. Perikop ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama (ayat 7-8) membahas ketidakadilan dan penindasan beruntun yang dilakukan para pejabat; bagian kedua (ayat 9-16) membahas tentang kesia-sian kekayaan; dan bagian ketiga (ayat 17-19) membahas tentang menikmati pemberian Allah.

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia.” (Pengkotbah 5:9)

Gue rasa bagian kedua tentang “kesia-siaan kekayaan” sudah banyak diketahui orang-orang. Kita sadar kalau harta tidak dibawa mati, tapi sayangnya banyak juga dari kita yang, sadar atau tidak, hidup untuk mengejar harta. Mengejar disini artinya adalah kita menjadikan harta ada di depan kita, sebagai tujuan kita, dan menggunakan harta kita hanya untuk diri kita sendiri; ketika seharusnya kita melihat harta sebagai sarana kita untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama. Bukan berarti kita tidak boleh kaya, tapi tidak seharusnya kita meletakan dasar alasan untuk mencari uang pada diri kita semata atau berpikir bahwa dengan memiliki harta akan membuat kita bahagia. Sikap hati dan motivasi yang sangat penting dalam hal ini.

Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya – juga itu pun karunia Allah.” (Pengkotbah 5:18)

Tapi bagian yang sangat gue nikmati adalah bagian ketiga dalam perikop ini. Gue bersyukur untuk diingatkan bahwa kekayaan dan harta kekayaan memang adalah karunia Allah, tapi bahkan kuasa untuk menikmati kekayaan tersebut juga adalah karunia Allah. Ada orang yang punya banyak uang, tapi tidak bisa menikmati uangnya (entah karena sakit atau hal-hal lain), maka uang yang mereka miliki menjadi seperti tidak ada artinya. Melalui ayat ini gue belajar bahwa cukup adalah berapa pun kekayaan yang Allah karuniakan, kita bisa menikmatinya sebagai bahagian dari Allah dalam jerih payah kita. Nominal jadi tidak perlu penting, asal ada uang dan kita bisa menggunakannya untuk memuliakan Allah dan melayani sesama, maka itu udah cukup.

Pertanyaan “seberapa besarkah cukup itu?” terlebih sulit untuk dijawab bagi kita pekerja muda di kota besar seperti Jakarta, yang bergumul dengan tuntutan gaya hidup ibukota. Suka atau tidak, pasti ada dorongan untuk keep up dengan gaya hidup metropolitan seperti “orang-orang”. Tantangannya adalah bagaimana memilih gaya hidup yang “berbeda” dengan dunia, gaya hidup yang “sudah diperbaharui”. Ini bukan soal merek produk skin care (gapapa ya pake contoh ini mulu abis emang ini yang relatable dengan hidup w), beli kopi dimana, atau investasi kemana, tapi apa dan kemana pun kita memilih untuk mengeluarkan uang, kita tahu apa yang mendasari pilihan itu. Jadi bukan menarik diri sama sekali dan living an extreme-minimalist lifestyle. Tentu hal ini bukan hal mudah untuk dipraktekan, tapi juga bukan hal yang mustahil.

Terkait dengan kata “cukup”, gue juga banyak berkaca dengan kondisi keluarga gue dulu (waktu gue masih sekolah). Papa hanya seorang PNS (yang pada waktu itu) yang gajinya mepet UMR, tinggal di Jakarta, dengan 3 orang anak yang masih sekolah. Untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, papa harus cari tambahan dengan kerja megang apotek (sebagai apoteker penanggung jawab) dan dosen di akademi farmasi. Walaupun kondisi keuangan pas-pas-an, orang tua gue tetap berpegang pada prinsip “pendidikan anak tetap nomor 1”, dan itulah alasan kenapa kami bertiga bisa SD di sekolah swasta yang lumayan mahal, gue sama kakak gue SMA di SMA negeri yang SPP-nya paling mahal se-Jakarta, dan kami bertiga di-les-in bahasa Inggris selama bertahun-tahun yang biayanya sama sekali tidak murah. Untuk pendidikan anak, orang tua gue selalu jor-joran. Bisa dibilang, gaji papa habis untuk biaya makan dan pendidikan anak (ya ini sebagaimana seharusnya sih). Untuk bisa nabung pun, biasanya mama sengaja pinjam uang ke koperasi pegawai papa untuk kemudian ditabung, yang mana sistem pembayaran cicilan utangnya langsung dipotong gaji. Jadi seperti “dipaksa” menabung. Karena itu, keluarga kami tidak punya budget untuk belanja, jalan-jalan, atau bahkan makan di luar. Gue inget gue beli baju baru cuma sekali setahun pas natal, dan uang jajan gue di masa SMA (tahun 2009-2012) cuma Rp 6.000 (tapi gue bawa bekal setiap hari). Gue selalu pinjem majalah atau novel temen karena tidak punya uang untuk beli sendiri. Gue JARANG banget jalan-jalan ke Mall (kalau pun nongkrong ke mall pasti ke McD dan cuma beli es krim/kentang goreng) atau nonton bioskop (frekuensi gue ke bioskop dari SMP sampai SMA bisa dihitung pakai jari), karena ya memang tidak punya uang. Lumayan berat menjalani kehidupan di SMA yang isinya mayoritas anak orang kaya, sementara gue beli paket nasi ayam KFC aja tidak punya uang (sedih amat wkwk).

Tapi pun demikian, semuanya bisa terlewati dengan baik, dan gue tidak mengingat masa-masa itu sebagai neraka. Walaupun semuanya serba pas, tapi segala kebutuhan kami tetap terpenuhi dengan baik dan kami bersukacita dengan kondisi itu. Gue justru bersyukur dengan pengalaman masa kecil gue yang demikian, karena masa-masa itu membuktikan kepada gue bahwa gue (dan keluarga) masih bisa bahagia dengan kondisi yang benar-benar “cukup”. Jadi sekarang (dan di masa depan), gue bisa menggunakan pengalaman itu untuk terus bersyukur dan berkata “cukup”. Lebih jauh, gue tidak khawatir dengan kondisi finansial gue di masa depan, karena gue menyaksikan sendiri penyertaan (providensia) Allah dalam kehidupan gue dan keluarga gue. Tidak ada yang menyangka gue akan mendapat beasiswa di bangku kuliah dengan jumlah yang lumayan besar, yang bukan hanya cukup untuk bayar kuliah dan kebutuhan sehari-hari (ortu cuma biaya-in kuliah dan kebutuhan gue di 2 semester pertama), tapi bahkan bisa ditabung buat biaya kawin WKWKWK. Poinnya adalah kita tidak bisa menduga bagaimana cara kerja Tuhan. Tapi satu hal yang pasti, Allah pasti menyediakan.

Lewat post ini, gue mau menyaksikan bahwa Allah tidak kurang kreatif untuk mencukupkan dan menyediakan. Bagian gue sebagai manusia adalah bekerja dengan sikap hati yang benar dan belajar untuk berkata “cukup” dengan kondisi apapun yang gue jalani bersama Allah. Semuanya hanyalah kasih karunia, bahkan termasuk kesempatan untuk gue menikmati berkat materi yang Tuhan berikan. At the end, gue mau belajar untuk senantiasa berdoa “terima kasih Tuhan, ini sudah cukup”.

Soli Deo Gloria.

010319

Jurnal Pengangguran Lidya Day 4: Behind The Scene RK XVIII Part 3

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.” (Filipi 1:3-4)

Post ini adalah bagian terakhir dari rangkaian Behind The Secene RK XVIII. Dan tentunya, bagian ini akan didedikasikan untuk orang-orang yang berada di belakang layar RK XVIII. Orang-orang yang memberikan dirinya, waktunya, pikirannya, dan (tentu) hatinya untuk pelayanan ini. Orang-orang yang, sebagaimana dikatakan Yoval dalam doanya di Weekend Doa II, menikmati dilayani dan diubahkan lewat RK-RK sebelumnya, dan rindu menolong adik-adik peserta menikmati perjumpaan dengan Kristus yang mengubah hidup dalam RK XVIII. Orang-orang yang menjadi bagian hidup gue setidaknya selama 4 bulan kebelakang. Orang-orang yang mungkin di awal perjalanan ini adalah orang asing, tapi sekarang adalah orang-orang yang kehadirannya amat sangat gue syukuri dalam hidup gue.

So here we go.


Dear Kak Elisabeth Yosephine Maria Tambunan,

Terima kasih untuk ke-nepotisme-an dan ke-kurang-pergaulan lo, sehingga memutuskan untuk mensharingkan pelayanan ini kepada gue. Mengerjakan RK ini rasanya seperti nostalgia ke RPI PO FHUI 2013 dimana kita berdua harus struggle berduaan di bidang acara. Thank you for your ears and kind care for me. I appreciate every laugh, tears, unfunny jokes, and even quarrel between us for these 4 months. Dan terutama, terima kasih sudah menjadi cara Tuhan mengasihi Lidya Corry Tampubolon selama hampir 6 tahun and still counting. I learnt so much from you, and looking forward to many lessons I may get from you in the future. I’ll say this now, gue mungkin adalah salah seorang yang paling bahagia ketika lo memutuskan untuk menjadi Staf Perkantas, dan gue berdoa semoga lebih banyak orang yang diberkati lewat hidup dan pelayanan Elisabeth Yosephine Maria Tambunan. Entah ini udah surat keberapa ratus gue buat lo, tapi semoga masih banyak surat-surat alay kita di masa depan. I’m so grateful to call you as my sister. So once again, thank you, sister.


Dear Ko Raynaldi Philipus,

Terima kasih sudah datang di saat-saat yang tepat untuk memberikan solusi dan sensasi kepanikan kepada panitia RK. Gue tahu lo SANGAT sibuk koh, tapi terima kasih banyak karena sudah memberikan hati dan waktu lo untuk menolong kami adik-adikmu yang clue-less ini. Terima kasih untuk lawakan-lawakan (tidak) dewasa yang sudah berikan kepada kami. Gue akan menyimpan video Pick Me dan imitation amang di Weekend Doa I untuk selama-lamanya. Semoga Tuhan yang membalas semua hal yang kokoh sudah berikan dan korbankan (contoh: kamera hp, spidol marker dan bolpoin) untuk pelayanan ini. God bless you even more!


Dear Valentine Febry Yohana Sinaga dan Dhea Veryna Novemta Simatupang,

Terima kasih sudah mau belajar dan dibentuk bersama dalam kepanitiaan ini. Kita bertiga sama-sama clue-less dan amatir sebagai bendahara dan fundraising: yang satu dokter, yang satu anak FISIP, dan yang satu anak hukum; tapi terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu berjuang memberikan yang terbaik. Gue akan selamanya mengingat perjuangan rapat bidang kita di McD Cideng di tengah hujan badai dan harus melintasi perjalanan antar kota antar provinsi. Terima kasih karena tidak pernah mengeluh dalam mengerjakan bagian yang tidak banyak disukai orang, dan terus setia untuk mengingatkan satu sama lain sampai akhir. Gue sangat mengapresiasi kalian yang tiada lelah menghitung dan terus menghitung bahkan di H+ RK, dimana semua orang sudah kembali pada kehidupannya dan kalian masih terus menghitung, mencari dana, dan membayar pengeluaran RK. Gue mengapresiasi kerutan stress di wajah kalian di sepanjang RK karena mikirin dana, tapi juga mengapresiasi ketulusan senyum kalian ketika melayani peserta. Untuk Yoval, betapa beruntungnya aku bisa mengenal Yoval, a girl with such a beautiful-big-kind-heart. Ketulusanmu benar-benar melampaui segala akal, sampai di awal-awal aku sering banget terharu dengan perhatian dan kerja kerasmu buat RK yang tidak pernah berkesudahan (seperti kasih Tuhan). Aku bersyukur Tuhan menganugerahkan bagi RK XVIII seorang bendahara yang penuh beban dan kesungguhan seperti Yoval, yang benar-benar making every effort supaya dana kita terpenuhi. Tuhan berkati persiapan ujianmu ya sis, ditunggu foto-foto angkat sumpah dokternya. Aku yakin Yoval akan menjadi salah satu living example dari visi PMdKJ. Untuk Dhea, aku tidak pernah tahu kalau seseorang bisa memiliki beautiful face dan beautiful soul (and beautiful voice) di saat yang bersamaan, sampai aku bertemu Dhea (cailah). Terima kasih untuk perjuangan dan kerja kerasmu untuk RK (yang sayangnya belum selesai sampai kita menyelesaikan LPJ wkwk). Aku bersyukur bisa mengenal Dhea dengan segala keceriaan, kesederhanaan, dan ketulusannya; dan merasa sangat tertolong dengan pelayananmu di RK sebagai bendahara. Terima kasih sudah mau belajar mengerjakan bagian ini yang kamu sama sekali asing dengannya, and you did such a great job. Kiranya Tuhan yang akan memperlengkapi dan menggunakan Dhea dalam berbagai kesempatan pelayanan lain di masa depan. Untuk Dhea dan Yoval, semoga Tuhan yang balaskan seluruh kebaikan dan kesungguhan hati kalian untuk pelayanan ini.  Thank you sisters, aku sayang kalian.


Dear Jesica Deviana dan Marselina Tabita,

Terima kasih sudah hadir dan menjadi tiang doa dalam kepanitiaan ini. Terima kasih sudah setia mengerjakan bagian kalian di tengah segala kesibukan kalian, I really appreciate it. Terima kasih sudah mewujudkan cita-cita dan harapan gue untuk membuat 2 kali weekend doa, terima kasih untuk ayam ungkep tinggal goreng di Weekend Doa I dan bubur ayam 6000 perak di Weekend II. Untuk Marsel, gue masih sedih (dan gue tahu lo juga sedih) karena ketidakhadiranmu di RK, when you’ve already work so hard for this. Walau demikian, gue yakin Tuhan akan berikan kesempatan untuk menikmati buah dari pelayanan ini, meski tidak melalui RK. Untuk Jedev, adikku sayang, terima kasih untuk pelayananmu selama ini baik di PO FHUI maupun di RK. Aku bersyukur mengenal Jedev yang begitu manis dan tulus, dan aku banyak belajar kelemahlembutan dan ketulusan darimu. Terakhir, thank you, and I thank God for both of you.


Dear Agnes Kristina Haloho, Cindy Artha Yunita Hutabarat, Lukas Bonar Nainggolan, dan Silva Oktoria Pasaribu,

TERIMA KASIH UNTUK SEGALANYA GENGS (biar kayak Cindy). I will always remember our sleep over meetings (gaya-gayaan padahal biasanya kita udah tidur jam 11 malam wkwk) yang terkadang tidak terlalu efektif karena kita kebanyakan ketawa dan ngelantur sama sini. Terima kasih sudah tertawa dan membalas lawakan-lawakan tidak lucu gue dan Kak Bebeth. Terima kasih untuk kerja keras tak kenal lelah dan ide-ide kreatif kalian. Gue tahu sungguh tidak mudah mempersiapkan retreat dengan peserta sebanyak ini dalam kondisi-kondisi kalian, tapi gue sungguh bersyukur karena kalian tidak menyerah dan terus berjuang memberikan yang terbaik. Untuk Agnes, walau masih sesedih itu karena kamu tidak bisa hadir di RK, tapi aku yakin kamu juga akan menikmati buah pelayanan ini somehow. Terima kasih untuk komentar-komentar out of nowhere kamu yang menyegarkan. Tidak menyangka kalau kamu lucu juga. Hehe. Semangat dalam mengerjakan panggilan hidupmu sis, kamu pasti bisa! Untuk Cindy, my Sumba girl (JANGAN SEDIH YA), you’ll never imagine how much I thank God for your presence in my life. Aku bersyukur pernah mengenal dan melayani Cindy, dan darimu aku belajar melayani dengan sukacita dan ketulusan hati. Momen melihat kamu (dan Tetty) di lobi Kinasih kamis malam adalah salah satu momen terbaik sepanjang RK, karena dari situ aku belajar lagi artinya berjuang dan bayar harga. Aku akan selamanya cherish momen kita di malam dedikasi, “Aku sudah menerima terang Kristus, kini Cindy, pergi dan terangilah Sumba.” Terus semangat, I believe your light will shine so bright there. Untuk Lukas, terima kasih untuk kesediaan lo hadir dan berjuang sampai akhir di RK ini. Terima kasih untuk tidak menyerah untuk RK di tengah kondisi lo saat itu yang gue tahu pasti tidak mudah. Gue bersyukur Tuhan kasih kita kesempatan melayani bersama dan menghilangkan segala ke-awkward-an itu. Maafkan gue yang sering marahin lo di hari H RK, padahal seharusnya gue men-treasure lo sebagai satu-satunya sie acara yang hadir dari awal di tengah segala keterbatasan. Once again, thank you! Untuk Silva ma beb, terima kasih untuk kehadiranmu dalam kehidupanku, kehidupan PO FHUI, dan kehidupan RK XVIII. I really adore you, salah satu junior favoritku, dan satu-satunya junior yang dengan sepenuh hati ingin aku jodohkan dengan AKK-ku (tapi sepertinya jangan karena kamu terlalu baik untuk mereka. Tenang aja mereka tidak akan baca ini karena mereka tidak pernah baca blogku). You’re shining so bright like diamond, dan aku percaya Tuhan akan kerjakan lebih banyak hal yang luar biasa di dalam dan melalui Silva. Sesungguhnya negara ini sangat beruntung memiliki aparatur sipil se-tekun, se-dalam, dan se-manis Silva. All my love and prayers for you, sist.  TERIMA KASIH SIE ACARA TERBAIK SEPANJANG SEJARAH RK (juara 2 sih, juara 1-nya tetep Sie Acara RK Kingdom Building Disciple HEHE).


Dear Chikita Theresia, Gohan Parningotan, dan Timothy Kosakoy,

Terima kasih untuk malam-malam begadang (atau bahkan hampir tidak tidur) kalian untuk mendesain segala perkakas RK. Terima kasih sudah membuat segala sesuatu terlihat sangat well-concept-ed dan elegan, mulai dari buku acara, nametag, kaos, spanduk, sampai background slide. Gue sangat bersyukur untuk pengorbanan dan kerja keras kalian untuk RK. Untuk Chika sayang, terima kasih untuk perjuanganmu dalam menghadapi segala pergumulan dan kesibukan di tengah RK ini. Thank you for letting us know your struggle and being honest with your condition. Chika adalah salah satu sosok ter-lovely yang pernah aku temui sepanjang hidupku, jadi jangan pernah khawatir sama apa yang orang pikirkan tentangmu ya. Semoga Tuhan senantiasa menjaga dan menolong Chika menghadapi segala pergumulan dan kekhawatiranmu. At last, I want you to know that I thank God for you. Untuk Gohan, terima kasih untuk kehadiran dan semangat lo buat RK ini. Kadang gue lupa kalau lo “cuma” tim kerja, karena kerja keras lo sepertinya sama saja seperti panitia. Terima kasih sudah menjadi LCD-guy yang sangat bisa diandalkan. Asik kan pelayanan mahasiswa? HAHAHAHA CANDA. Bye.


Dear Abednego Delta Pradana, Bill Arthur Sirang, Randy Dewangga Lokananta, dan  Yosia Marsino,

THANK YOU MY FOREVER RELIABLE GUYS. Sie akpertrans RK dua tahun lalu adalah sie akpertrans terbaik yang pernah gue temui dalam hidup, jadi gue meletakkan standar yang lumayan tinggi buat kalian DAN KALIAN BERHASIL MEMECAHKANNYA!!!! Zuper proud :’) Untuk Brobed, gue tidak tahu sih kenapa orang-orang memanggil lo Brobed tapi yaudah gue ikutan aja. Awalnya gue khawatir bahwa lo akan gabut dan menghilang di tengah-tengah kepanitiaan ini WKWKWK tapi terima kasih untuk membuktikan bahwa kehawatiran gue tidak beralasan. Kami bersyukur bisa menyaksikan aslinya Brobed yang lemah lembut dan kocak walaupun sudah agak diakhir-akhir. Kiranya Tuhan berkati kehidupan “baru” lo di Gunung Mas. Untuk Bill, yagitudeh Bill. Tidak menyangka kalau adik bidang gue di kepengurusan PO FHUI 2015 akan jadi rekan di pelayanan yang sama setelah 4 tahun berlalu. Lucu sih mengingat dan membandingkan Bill di tahun 2015 dan di tahun 2019, karena tidak ada bedanya HAHAHAHAHA tapi yang jelas terima kasih tidak pernah marah/ngambek sebanyak apapun gue nge-ceng-in dan marahin lo. Gue senang sekali menerima pesan lo setelah RK dan melihat lo menikmati pelayanan ini dengan penuh (sampai hujan-hujanan ya wkwk). Semoga Tuhan kerjakan lebih banyak hal yang luar biasa dalam hidup lo dan gue berkesempatan menyaksikannya. Dan semoga makin uwu! Untuk Randy, sesungguhnya gue sudah bisa memproyeksikan bahwa lo akan menjadi sie akpertrans yang luar biasa ketika lo banyak menolong panitia RK XVI dua tahun lalu (hanya karena Ci Kath panitia RK). Dan ternyata proyeksi gue tersebut benar adanya dan bahkan melebihi bayangan gue. Terima kasih untuk kegercepan, ke-inisiatif-an, dan kerja keras lo, terutama untuk kesediaan lo bolak-balik Jakarta-Kinasih-Jakarta-Kinasih lagi supaya bisa nolongin Tim Advance. Berhubung gue udah pernah satu kepanitiaan sama lo dan Ci Kath, jadi sepertinya walaupun kalian tidak mengundang gue ke nikahan kalian, gue akan tetap datang shamelessly. Hehe. Untuk Yosia, terima kasih sudah menjadi the most-reliable-man I’ve ever known. Dari pertama lo chat gue untuk nanya soal RK, gue benar-benar bahagia karena akan pelayanan bareng lagi sama seorang Oci. Terima kasih untuk mengajarkan gue untuk tidak pernah hitung-hitungan dalam pelayanan, selalu memberikan yang terbaik, dan tidak pernah berpikir dua kali untuk bergerak dan berkorban. Gue akan selamanya cherish semua percakapan, lawakan, tawa, dan sharing serius kita. Gue benar-benar bersyukur kepada Tuhan untuk memberikan kesempatan bagi gue untuk mengenal lo dan melayani Dia bersama lo. Thank you for being such a great partner dan semoga Tuhan sertai setiap pergumulan lo kedepannya. Ganbatte!


Dear Armita Siregar, Desy Aldewistya, Jason Gunawan, Nadia Ananda, Nazaroni Parapat, Tetty Florentina Bukit,  dan Yohana Maria Methodis Hapijaya,

Terima kasih untuk kerja keras kalian mem-follow up ratusan peserta RK. Terima kasih sudah berjuang di tengah kesibukanan dan kondisi pribadi kalian. Terima kasih karena sudah punya hati untuk peserta RK dan untuk PMK-PMK di Jakarta. Sebenarnya gue merasa bersalah karena tidak terlalu fokus mengkoordinasi sie peserta dan tidak paham apa yang harusnya dilakukan, tapi di saat yang bersamaan menuntut begitu banyak dari kalian. Awalnya gue banyak khawatir akan persiapan kita, tapi gue bersyukur Tuhan membalikkan kekhawatiran gue. Walaupun ada banyak perubahan mendadak peserta menjelang hari H, tapi bagian sie peserta tetap terkoordinasi dengan baik dan tidak keteteran. Terima kasih untuk ke-lovely-an kalian yang memberikan warna yang khas buat kepanitiaan kalian, terutama terima kash untuk ketawa non-stop Mita. Terima kasih juga untuk sharing-sharing kalian sebelum dan saat hari H RK, it means so much for me. Untuk Mita, terima kasih untuk kesungguhan hatimu yang bisa aku lihat jelas lewat pelayanan ini dan sharing-sharingmu. Aku salut banget melihat bebanmu dan kedekatanmu dengan kampus-kampus di Pusat. Terima kasih untuk menjadi berkat bagiku lewat cara-cara yang tidak terduga. Untuk Desy, terima kasih untuk kerja kerasmu yang tidak terhingga buat RK ini. Jadi MC dan Panitia di saat yang bersamaan pasti gila banget, apalagi mengingat beban studimu saat ini. Tapi aku bersyukur untuk pelayananmu di RK ini, baik sebagai MC maupun sebagai panitia. Sama seperti pelayananmu sangat memberkati aku, aku yakin pelayananmu juga memberkati banyak peserta. Untuk Jason, terima kasih untuk kehadiranmu yang sederhana namun memberi makna untuk pelayanan ini. It’s very nice to know and meet such a unique person like you. Tuhan sertai OTT eh OJT-mu, semoga dirimu menjadi garamn dan terang dimana pun kamu ditempatkan. Untuk Nadia, terima kasih sudah mengerjakan bagianmu dengan baik yang mungkin terasa asing. Tetap setia dan semangat melayani Dia ya sistah.  Untuk Roni, terima kasih untuk tidak mundur setelah gue marah-marah ke lo (via telepon lagi wkwk) dan justru kemudian lebih berjuang buat RK. Karena tanpa kehadiran lo maka tim advance akan sangat kesulitan dan kelabakan. Semangat terus ya Ron! Untuk Tetty, terima kasih untuk pelayanan dan pengorbananmu untuk RK. Sama seperti Cindy, aku terharu melihat kamu di lobi Kinasih kamis malam itu. Tuhan berkati dan sertai kisahmu di Samarinda, aku yakin kamu pasti jadi berkat disana. Untuk Yohana, terima kasih mau berjuang untuk RK terutama di saat-saat mendekati hari H. Aku tahu pasti berat bagimu membagi waktu dan fokus antara pekerjaanmu (yang lumayan demanding itu) dengan RK (yang juga demanding). Tapi aku bersyukur untuk kehadiranmu di hari H RK, yang aku tahu kamu pun harus berjuang untuk kehadiranmu itu. Terima kasih adik-adikku yang menggemaskan, aku sayang kalian.

Dear semua orang yang sudah menolong dan mendoakan RK,

Terima kasih untuk semua doa, dukungan moril/materil, dan pertolongan kalian baik sebagai tim kerja, pendoa, donatur, PPA, pelayan mimbar, dll. Tuhan berkati senantiasa dan KALIAN LUAR BIASA.

At last, terima kasih Tuhan Yesus karena sudah kasih aku kesempatan untuk melayani dan dibentuk bersama sosok-sosok luar biasa yang aku sebutkan di atas. Terima kasih sudah membuktikan kepadaku kalau aku tidak bisa apa-apa tanpa Engkau dan tanpa mereka. Terima kasih sudah mengasihi dan memberkatiku lewat kehadiran mereka. You’re my all, You’re the best.

 

Soli Deo Gloria.

230219